ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Semua pembahasan tentang aqidah dan akhlak termasuk Ilmu tauhid serta konsepnya, dapat ditaruh disini.

Moderator: Forum Control

ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby n'DhiK » 2010 01 28, 3:49

ALLAH

Allah dalam Bahasa Indonesia adalah kata benda serapan yang diambil dari kata "allah" (الله) dalam Bahasa 'Arab yang artinya "Tuhan" secara general, karena kata "Allah" termasuk ism ma'rifat (kata benda khusus) dan maknanya luas.. kata dasarnya adalah "ilah" (إله) yang artinya "tuhan/dewa"...

dalam Bahasa 'Arab, "ilah" (إله) bila diberi kata sandang seharusnya menjadi "al-ilah" (الإله), namun amat menarik ketika kita pelajari nahwu sharaf bahwa "al-ilah" adalah bentuk ism mudzakkar (maskulin) yang masih bisa dibentuk menjadi ism mu'annats (feminin) yaitu "al-ilat"... sama halnya dengan "god" dan "goddess", maka "al-ilah" adalah ism nakirah...

oleh sebab itu, "allah" tidak bisa dibentuk mu'annats, bahkan jika ingin diambil strukturnya sebagai fi'il, maka akan dipecah menjadi "ilah", misalnya "ta'ulah" (تأله) - mempertuhankan, maka "allah" terlepas dari semua "gramatika struktur"...

kali ini, kita akan membahas "allah" dalam 3 agama samawi; Yahudi, Kristen, dan Islam.. meskipun TS seorang Muslim, TS akan memakai kacamata (perspektif) masing-masing agama... perlu diketahui bahwa Allah dalam pemahaman Yahudi, Kristen, dan Islam adalah Allah Yang Sama... sama di sini adalah kesamaan tokoh namun deskripsinya berbeda... ibarat SBY, SBY adalah presiden RI, satu orang, namun dalam perspektif keluarganya dan perspektif partner usahanya akan berbeda, apalagi dalam perspektif politis dan kenegaraan juga berbeda...

I. ALLAH DALAM YUDAISME

Agama Yahudi memakai Bahasa Ibrani "elohiym" (אלהים), yang menurut Tanakh (kodifikasi atas 5 Kitab Taurat Ibrani) artinya "mereka yang turun dari langit", bentuk jamak dari "eloha" (אלה) yang berarti "dia yang turun dari langit"... istilah ini merujuk pada "Tuhan" secara general, yang jika diterjemahkan dalam Bahasa 'Arab juga tertulis "allah" (الله)... istilah ini terdapat mula-mula pada Sefer Beresyit pasal 1 ayat 1:

בְּרֵאשִׁית, בָּרָא אֱלֹהִים, אֵת הַשָּׁמַיִם, וְאֵת הָאָרֶץ
beresyit bara elohiym et hasysyamayim v'et ha'arets

dalam terjemahan Bahasa 'Arab, terdapat pada Sifr At-Takwin pasal 1 ayat 1:

فِي الْبَدْءِ خَلَقَ اللهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ
fil bad'i khalaqallaahus samaawaati wal ardh

"pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi" (Kejadian 1: 1)

dalam Bahasa-bahasa Eropa; salah satunya Bahasa Inggris, "elohiym" diterjemahkan menjadi "god", berbeda dengan "allah" dalam Al-Qur'an yang diterjemahkan "allah" juga dalam Bahasa Inggris...

"in the beginning God created the heaven and the earth" (Genesis 1: 1)

monotheisme Yahudi mula-mula merujuk pada 4 bangsa yang menyebut istilah "elohiym" yaitu Bangsa Amori, Yebus, Kanaan, dan Phunis... kemudian Avrah'am (Abraham), seorang nav paling utama (pendiri monotheisme Yahudi mula-mula) memperkenalkan ilah yang ekslusif itu adalah istilah "elohiym", sehingga terdapat pengaruh luas dari daratan Kanaan...

setelah itu Mosyeh (Musa), salah satu nav paling utama (penegak tonggak kehidupan Yudaisme) memperkenalkan istilah "Yahweh" (יהוה) yang sering disingkat "YHWH" (Inggris: Jehovah / Lord, Indonesia: TUHAN, 'Arab: Rabb)...

hal ini merujuk pada dalil:

וַיְדַבֵּר אֱלֹהִים, אֶל-מֹשֶׁה; וַיֹּאמֶר אֵלָיו, אֲנִי יְהוָה
וָאֵרָא, אֶל-אַבְרָהָם אֶל-יִצְחָק וְאֶל-יַעֲקֹב--בְּאֵל שַׁדָּי; וּשְׁמִי יְהוָה, לֹא נוֹדַעְתִּי לָהֶם

way'daber elohiym el mosyeh wayyo'mer elayw 'ayni yehwah, wa'era' el avrah'am el yitskhaq v'el ya'aqov b'el syaday usymiy yehwah lo' nwoda'etiy layem

"Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Mosyeh: "Akulah TUHAN!" Aku telah menampakkan diri kepada Avrah'am, Yitskhaq, dan Ya'aqov sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN Aku belum menyatakan diri" (Syemot 6: 2-3)

namun menurut orang-orang Perusyim (salah satu golongan Yahudi yang dikenal sebagai penafsir Taurat dan golongan tanna'iym -penyusun misynah-, dalam Bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan "Farisi") dalam Kitab Beresyit dijelaskan bahwa istilah "yahweh" diperkenalkan Allah kepada 'Eynosy untuk menyebut "satu-satunya ALLAH yang benar", dalam arti mudahnya, Elohiym dipakai secara general, untuk allah-allah orang kafir (goyim/ non-Yahudi) sedangkan Yahweh dipakai secara spesifik, yaitu "Elohe Yisyra'el" (Allah Israel)...

וּלְשֵׁת גַּם-הוּא יֻלַּד-בֵּן, וַיִּקְרָא אֶת-שְׁמוֹ אֱנוֹשׁ; אָז הוּחַל, לִקְרֹא בְּשֵׁם יְהוָה
ulesyeth gam-hu yullad ben wayyiqra' et syeimo 'eynosy 'az huwkhal liqro' bisyem yehwah

"Lahirlah seorang anak laki-laki bagi Seth juga dan anak itu dinamainya Eynosy. Waktu itulah orang mulai memanggil nama TUHAN" (Beresyit 4: 26)

meskipun demikian, kata "Yahweh" baru muncul pada kitab yang sama di pasal 2 ayat 4:

אֵלֶּה תוֹלְדוֹת הַשָּׁמַיִם וְהָאָרֶץ, בְּהִבָּרְאָם: בְּיוֹם, עֲשׂוֹת יְהוָה אֱלֹהִים--אֶרֶץ וְשָׁמָיִם
'elleh thole'doth hasysyamayim veha'arets behibarei'am biyom 'aswoth yehwah elohiym 'erets wesyamayim

"Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan. Ketika TUHAN Allah menjadikan bumi dan langit,"

Nav Mosyeh menceritakan tentang Tuhan yang sudah diketahui namanya menciptakan alam semesta, kejadian penciptaan memang dimasa silam, namun keterangannya dibuat pada zaman Mosyeh...

Image
illustrasi Allah dan Adam (manusia)

lantas, mengapa Indonesia menerjemahkan "TUHAN", Inggris menerjemahkan "Lord", dan 'Arab menerjemahkan "Rabb"?? pertanyaan ini akan muncul dibenak kita semua, alasannya adalah menjaga keaslian dan kesucian serta kesakralan nama YHWH tersebut... bahkan dalam Alkitab Ibrani pun, Yahweh meskipun disalin YHWH tetapi dibaca "adonay" (אדני).... kata "YHWH" ini masih diselimuti misteri, sebagian yang berpikir apologi mengatakan YHWH adalah sesembahan Bangsa Kanaan kuno,

namun meskipun begitu, YHWH bukanlah kata Ibrani.. ketika dijabarkan dalam Tanakh, maka YHWH diperkirakan berasal dari kata "Ehyeh Asyer Ehyeh" (אהיה אשר אהיה), terdapat dalam Sefer Syemot pasal 3 ayat 14:

וַיֹּאמֶר אֱלֹהִים אֶל-מֹשֶׁה, אֶהְיֶה אֲשֶׁר אֶהְיֶה; וַיֹּאמֶר, כֹּה תֹאמַר לִבְנֵי יִשְׂרָאֵל, אֶהְיֶה, שְׁלָחַנִי אֲלֵיכֶם
wayyo’mer elohiym el mosyeh ehyeh asyer ehyeh wayyo'mer koh tho'mar li v'ney yisyra'el ehyeh syəlakhaniy 'aleykhem[/color]

"Firman Allah kepada Mosyeh: "AKU ADALAH AKU" Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu."

karena kesakralan nama ini, dalam tradisi Yahudi sendiri, masih dianggap "keramat" bila menulis "YHWH" dengan pena atau keyboard.. mereka menjaga kesakralan nama ini sehingga bila didapati penulis Yahudi menulis YHWH di kertas atau komputer, maka mereka biasanya mengambil pena baru atau keyboard baru, lalu setelah menulis "YHWH", mereka akan mematahkan pena dan keyboard tersebut... maka dari itu, dalam beberapa forum Yahudi di internet, mereka mengatakan "my Lord" atau "adonay" yang mengartikan "YHWH" tersebut...

orang Yahudi dalam menafsirkan pemahaman teologia mereka, mereka cenderung menggunakan pendekatan via negativa... mereka berpendapat bahwa Tuhan adalah Ein Sof, suatu keberadaan yang tidak terbatas hingga bahkan tidak dapat dibatasi oleh keberadaan roh saja... Ein Sof adalah Tuhan-dalam-keberadaannnya, "The Godhead"... Ein Sof adalah dia yang tersembunyi dan tak terpahami, "the infinity of nothingness".. Ein Sof sedemikian tak terjangkau hingga seakan Dia tiada, padahal sebenarnya Dia ada dalam ketiadaannya

secara global, Yahudi menganut unitarian monotheism seperti Islam, namun beberapa filosuf Yahudi, salah satunya Rav Jacob Neusner dalam bukunya "Judaism: The Basic" menolak pandangan global tersebut...

dia menilai bahwa Yahudi menganut ethical monotheism, merujuk pada penilaiannya bahwa YHWH BUKAN NAMA TUHAN dan SIMBOL YHWH ADALAH TETRAGRAMMATON:

Rabbi Jacob Neusner - Judaism: The Basic p.145 wrote:"Judaism’s worldview is that of ethical monotheism. Monotheism is the doctrine that there is one God alone, possessing the power to do all things. Polytheism, the opposite of monotheism, is the doctrine that there are many gods, each empowered to take charge of a given task. Monotheism is made ethical by the belief that the one God is bound by the same laws of right and wrong, good and evil, that govern humanity. In polytheism some gods are benevolent, some not.
The upshot is monotheism explains many things in one way, by attributing all that happens to the will of the one God. Polytheism explains one thing in many ways, by crediting what happens to the intervention of competing gods. And monotheism knows God as benevolent and loving, while in polytheism some gods are, and some are not, moved by good will.
"


artinya, monotheisme dalam kerangka pemikiran Yahudi adalah Tuhan sebagai Ein Sof yang satu kesatuan-Nya tidak mungkin terjangkau oleh pemikiran manusia... Keesaan Tuhan adalah Keesaan dalam satu otoritas Ilahi dan Keesaan Hukum Moral akan yang baik dan jahat, Keesaan dalam Logos (Firman Kuasa) dan Keesaan dalam Syekinah (kebijaksanaan)... ibarat langit yang luas, bagaimana mungkin kita bisa mengatakan "langit itu satu" sementara tidak ada standar kesatuannya..

kembali pada pandangan global bahwa monotheisme Yahudi itu sama dengan Islam, prinsip utama Keesaan Allah terdapat dalam Sefer Devarim pasal 6 ayat 4:

שְׁמַע, יִשְׂרָאֵל: יְהוָה אֱלֹהֵינוּ, יְהוָה אֶחָד
syema' yisyra'el yehwah eloheynu yehwah 'ekhad

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!" (Devarim 6: 4)

pandangan global Yahudi adalah Allah disusun sebagai zat yang kekal, pencipta alam semesta, dan sumber moralitas... Allah mempunyai kuasa untuk campur tangan di dunia sehingga Allah terkait dengan kenyataan sebenarnya, dan bukan hanya proyeksi dari jiwa manusia... berbicara soal esa, maka esa itu tunggal, sedangkan satu ada dua dan ada nol, meskipun Bahasa Ibrani memang miskin perbendaharaan kata, maka "ekhad" ini bisa berarti "esa" bisa berarti "satu" (dalam aksara angka sama-sama alef)...

Allah dijelaskan dalam pengertian seperti: "Ada satu Dzat, sempurna dalam segala cara, yang merupakan penyebab utama dari semua keberadaan. Semua tergantung pada keberadaan Allah dan semua berasal dari Allah"...
Last edited by n'DhiK on 2010 01 28, 4:07, edited 1 time in total.
kata Kristen: "Allah tidak perlu dibela, tidak seperti Muslim yang Allah-nya lumpuh perlu dibela"

lalu apakah ini bukan pembelaan? ===>>> Sarapan Pagi: Jawaban Atas Kontradiksi Alkitab

jika ente bilang bukan pembelaan, silahkan cek buktinya bahwa ini adalah pembelaan di sini ===>>> Tanggapan Atas Jawaban Kontradiksi Alkitab Sarapan Pagi
User avatar
n'DhiK
Jatuh Cinta
Jatuh Cinta
 
Posts: 978
Joined: 2008 10 22, 1:37
Location: Dari Jakarta Hingga Ke Makkah

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby n'DhiK » 2010 01 28, 4:03

II. ALLAH DALAM KEKRISTENAN

sebagian besar, antara Yahudi dan Kristen memiliki pemahaman yang sama secara dialektika, ketika Yesus mengucap "allah" dalam Bahasa Ibrani, maka juga diterjemahkan dalam Bahasa Yunani menjadi "theos" (θεός)...

dalam banyak agama, Allah yang Mahatinggi diberi gelar dan Bapa... dalam berbagai bentuk polytheisme, tuhan yang tertinggi dipahami sebagai "bapa dari semua tuhan dan manusia"...

namun dalam agama Israel dan Yudaisme modern, YHWH disebut Bapa karena Ia adalah Pencipta, Pemberi hukum, dan Pelindung... demikian pula di dalam Kekristenan, Allah disebut Bapa dengan alasan yang sama, tetapi terutama sekali karena misteri dari hubungan Bapa-Anak yang diungkapkan oleh Yesus Kristus...

pada umumnya, nama Bapa yang diberikan kepada Tuhan menunjukkan bahwa Ia adalah asal-usul dari segala sesuatu yang tunduk kepada-Nya. Dialah Kewibawaan yang tertinggi dan yang Mahakuasa, Patriarkh, dan Pelindung... dalam dua dari tiga bentuk utama dari monotheisme, Yudaisme dan Kekristenan, Allah disebut Bapa sebagian karena Ia dianggap secara aktif mempunyai perhatian dalam urusan manusia, dalam cara yang sama seorang ayah menaruh minat terhadap anak-anaknya...

Image
illustrasi manusia yang berdoa kepada Bapa

jadi, banyak pemeluk monotheis yang percaya bahwa mereka dapat berkomunikasi dengan-Nya melalui doa, baik untuk memuji-Nya ataupun mempengaruhi tindakan-Nya...

mereka mengharapkan bahwa sebagai Bapa, Ia akan menjawab kepada umat manusia, anak-anak-Nya, bertindak demi kepentingan mereka, bahkan menghukum orang-orang yang berperilaku buruk, seperti seorang ayah yang menghukum anak-anaknya, dan memulihkan mereka yang percaya akan kasih-Nya... Rasul Paulus pernah berkata:

εἰ δὲ χωρίς ἐστε παιδείας ἧς μέτοχοι γεγόνασιν πάντες, ἄρα νόθοι καὶ οὐχ υἱοί ἐστε

"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang" (Ibrani 12:8)

dalam Kekristenan, Allah disebut "Bapa" (πατέρας) dalam pengertian yang tidak pernah dikenal sebelumnya, selain sebagai Pencipta dan Pemelihara ciptaan, dan Pelindung bagi anak-anak-Nya, umat-Nya... Bapa dikatakan mempunyai hubungan yang kekal dengan Anak Tunggal-Nya, Yesus...

hal ini menyiratkan suatu hubungan yang eksklusif dan akrab yang menjadi hakikat-Nya yang khas:

"...tidak seorangpun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorangpun mengenal Bapa selain Anak, dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya" (Matius 11:27)

dalam theologi Kristen, ini adalah ungkapan dari pengertian tentang Bapa yang menjadi hakekat sifat Allah, suatu hubungan yang kekal... bentuk dominan dari teologi ini menyatakan bahwa hubungan ini merupakan misteri Kristen yang disebut Tritunggal...

berikut ini Pribadi Pertama Allah dari Katekismus Gereja Katolik;

AKU PERCAYAAKAN ALLAH, BAPA YANG MAHAKUASA, PENCIPTA LANGIT DAN BUMI

Pasal 1 “Aku Percaya Akan Allah
199 "Aku percaya akan Allah", pernyataan pertama dari pengakuan iman ini juga yang paling mendasar. Seluruh pengakuan berbicara tentang Allah, dan kalaupun ia berbicara juga tentang manusia dan tentang dunia, maka itu dilakukan dalam hubungan dengan Allah. Artikel-artikel Kredo semuanya bergantung dari yang pertama, sama seperti perintah-perintah dekalog selanjutnya mengembangkan perintah yang pertama. Artikel-artikel berikutnya membuat kita mengenal Allah lebih baik, seperti Ia mewahyukan Diri kepada manusia, langkah demi langkah. "Sepantasnya umat beriman lebih dahulu mengakui bahwa mereka percaya akan Allah" (Catech. R.1,2,6).

I. "Kami Percaya akan Satu Allah"
200 Kredo Nisea-Konstantinopel mulai dengan kata-kata ini. Pengakuan akan keesaan Allah, yang berakar dalam wahyu ilahi Perjanjian Lama, tidak dapat dipisahkan dari pengakuan tentang adanya Allah dan dengan demikian sangat mendasar. Allah adalah Esa; ada hanya satu Allah. "Kepercayaan Kristen memegang teguh dan mengakui ... bahwa Allah adalah Esa menurut kodrat, substansi, dan hakikat" (Catech.R. 1,2,2).
201 Tuhan sebagai Yang Esa mewahyukan Dia kepada Israel, bangsa yang dipilih-Nya: "Dengarlah, hai orang Israel. Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah Tuhan Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu" (Ul 6:4-5). Dengan perantaraan para nabi, Allah mengajak Israel dan semua bangsa supaya berpaling kepada-Nya, Allah yang satu-satunya: "Berpalinglah kepada-Ku, dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi. Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain ... semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku, dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa, sambil berkata: Keadilan dan kekuatan hanya ada di dalam Tuhan" (Yes 45:22-24)1.
202 Yesus sendiri menegaskan bahwa Allah "adalah satu-satunya Tuhan" dan bahwa orang harus mencintai-Nya dengan sepenuh hatinya, dengan segenap jiwanya, dengan seluruh akalnya, dan dengan segala kekuatannya. Pada waktu yang sama Ia juga menyatakan bahwa Ia sendiri adalah "Tuhan". Memang pengakuan bahwa "Yesus itu Tuhan" adalah kekhasan iman Kristen. Namun ia tidak bertentangan dengan iman akan Allah yang Esa. Juga iman akan Roh Kudus "yang adalah Tuhan dan membuat hidup", tidak membawa perpecahan dalam Allah yang Esa: .
"Kami percaya dengan teguh dan mengakui dengan jujur bahwa ada hanya satu Allah yang benar, kekal, tidak terbatas, dan tidak berubah, tidak dapat dimengerti, mahakuasa, dan tidak terkatakan yaitu Bapa, Putera, dan Roh Kudus: meskipun tiga Pribadi, tetap satu hakikat, substansi atau kodrat yang sama sekali tak tersusun [dari bagian-bagian]" (Konsili Lateran IV: DS 800).

II. Allah Mewahyukan Nama-Nya
203 Allah mewahyukan Diri kepada bangsa-Nya Israel dengan memberitahukan nama-Nya. Nama mengungkapkan hakikat seseorang, identitas pribadi dan arti kehidupannya. Allah mempunyai nama. Ia bukanlah kekuatan tanpa nama. Menyatakan nama berarti memperkenalkan diri kepada orang lain; berarti seakan-akan menyerahkan diri sendiri, membuka diri, supaya dapat dikenal lebih dalam dan dapat dipanggil secara pribadi.
204 Allah menyatakan Diri kepada bangsa-Nya langkah demi langkah dan dengan berbagai nama. Namun wahyu pokok untuk Perjanjian Lama dan Baru adalah wahyu nama Allah kepada Musa pada penampakan dalam semak duri bernyala sebelum keluar dari Mesir dan sebelum perjanjian Sinai.

Allah yang Hidup
205 Allah menyapa Musa dari tengah semak duri yang menyala tanpa terbakar. Ia berkata kepada Musa: "Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub" (Kel 3:6). Allah adalah Allah para bapa, yang memanggil bapa-bapa bangsa dan membimbing mereka dalam perjalanan mereka. Ia adalah Allah yang setia dan turut merasakan, yang ingat akan para bapa dan akan perjanjian-Nya. Ia datang untuk membebaskan keturunannya dari perbudakan. Ia adalah Allah yang dapat dan mau melakukan ini tanpa bergantung pada waktu dan tempat. Ia melaksanakan rencana-Nya melalui kemahakuasaan-Nya.

"Aku Adalah AKU ADA"
"Musa berkata kepada Allah: `Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang namanya? - apakah yang harus kujawab kepada mereka? Firman Allah kepada Musa: `AKU ADALAH AKU. Lagi firman-Nya: `Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu... itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun" (Kel 3:13-15).
206 Dengan mewahyukan nama-Nya yang penuh rahasia, YHWH: "Aku adalah Dia yang ada" atau "Aku adalah AKU ADA", Allah menyatakan siapa Dia dan dengan nama apa orang harus menyapa-Nya. Nama Allah ini penuh rahasia, sebagaimana Allah sendiri juga penuh rahasia. Ia adalah nama yang diwahyukan dan pada waktu yang sama boleh dikatakan sebuah penolakan untuk menyatakan suatu nama. Tetapi justru karena itu ia menegaskan dengan cara yang paling baik, Siapa sebenarnya Allah: Yang mengatasi segala sesuatu, yang tidak dapat kita mengerti atau katakan, Yang Mulia tak terbatas. Ia adalah "Allah yang tersembunyi" (Yes 45:15), nama-Nya tidak terkatakan dan bersama itu pula Ia adalah Allah yang menghadiahkan kehadiran-Nya kepada manusia.
207 Bersama dengan nama-Nya Allah mewahyukan sekaligus kesetiaan-Nya yang ada sejak dulu dan akan tinggal selama-lamanya: Ia setia, "Aku ini Allah nenek moyangmu" (Kel 3:6) dan akan tetap setia, "Aku ada beserta kamu" (Kel 3:12). Allah, yang menamakan Diri "AKU ADA", mewahyukan Diri sebagai Allah yang selalu hadir, selalu menyertai bangsa-Nya untuk meluputkannya.
208 Mengingat kehadiran Allah yang penuh rahasia dan pesona, manusia menyadari kehinaannya. Di depan semak berduri yang menyala, Musa membuka sandalnya dan menutup mukanya sebab takut memandang Allah. Di depan kemuliaan Allah yang tiga kali kudus, Yesaya berseru: "Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir" (Yes 6:5). Melihat tanda-tanda ilahi yang Yesus lakukan, Petrus berseru: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini orang berdosa" (Luk 5:8). Tetapi karena Allah itu kudus, Ia dapat mengampuni manusia yang mengakui diri sebagai orang berdosa di hadapan-Nya: "Aku tidak akan melaksanakan murka-Ku yang bernyala-nyala itu... sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus di tengah-tengahmu" (Hos 11:9). Demikian juga Rasul Yohanes berkata: "Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, sebab jika kita dituduh olehnya, Allah adalah lebih besar daripada hati kita serta mengetahui segala sesuatu" (1 Yoh 3:19-20).
209 Karena hormat kepada kekudusan Allah, bangsa Israel tidak mengucapkan nama Allah. Waktu membaca Kitab Suci, nama yang diwahyukan diganti dengan gelar martabat ilahi "Tuhan" ("Adonai", dalam bahasa Yunani "Kurios"). Dengan gelar ini ke-Allah-an Yesus diakui secara meriah: "Yesus adalah Tuhan".

"Tuhan yang Rahim dan Berbelaskasihan"
210 Setelah Israel berdosa dan berbalik dari Allah, dengan menyembah anak lembu emas, Allah mendengarkan permohonan Musa dan bersedia berjalan bersama bangsa-Nya yang tidak setia itu. Dengan demikian Ia menunjukkan cinta-Nya. Ketika Musa meminta supaya boleh melihat kemuliaan-Nya, Allah menjawabnya: "Aku akan melewatkan segala kegemilangan-Ku di depanmu dan menyerukan nama YHWH di depanmu" (Kel 33:18-19). Dan Tuhan berjalan lewat di depan Musa dan berseru: "Tuhan, Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya" (Kel 34:6). Lalu Musa mengakui bahwa Tuhan adalah Allah yang mengampuni.
211 Nama Allah "AKU ADA" atau "IA ADA" menyatakan kesetiaan Allah. Kendati ketidaksetiaan yang terdapat dalam dosa manusia, dan kendati siksa atasnya, Allah "mengasihi beribu-ribu keturunan" (Kel 34:7). Allah mewahyukan bahwa Ia "murah hati" (Ef 2:4) dan Ia berlangkah begitu jauh sampai Ia menyerahkan Putera-Nya sendiri. Yesus mengurbankan kehidupan-Nya supaya membebaskan kita dari dosa, dan dengan demikian mewahyukan bahwa Ia sendiri menyandang nama ilahi itu: "Apa bila kamu sudah meninggikan Anak Manusia, kamu akan tahu, bahwa Akulah Dia" (Yoh 8:28).

Hanya Allah yang Ada
212 Dalam jangka waktu berabad-abad iman Israel dapat mengembangkan kekayaan, yang terungkap dalam wahyu nama Allah, dan dapat menyelaminya. Allah itu Esa; di samping Dia tidak ada Allah lain. Ia agung melebihi dunia dan sejarah. Ia menciptakan langit dan bumi: "Semuanya akan musnah, tetapi Engkau tetap sama, hidup-Mu tak akan berakhir" (Mzm 102:27-28). Padanya "tidak ada perubahan dan tidak ada kegelapan" (Yak 1:17). Dialah "YANG ADA" dari dahulu dan untuk selama-lamanya dan dengan demikian Ia tetap setia kepada Diri sendiri dan kepada perjanjian-Nya.
213 Dengan demikian wahyu mengenai nama yang tak terucapkan "AKU adalah AKU ADA" mengandung kebenaran bahwa hanya Allah yang ADA. Terjemahan Septuaginta dan tradisi Gereja memahami nama Allah dalam arti: Allah adalah kepenuhan keberadaan dan kesempurnaan, tanpa awal dan akhir. Sementara segala makhluk ciptaan menerima segala-galanya, keberadaan dan milik mereka dari Dia, hanya Ia sendiri merupakan Keberadaan-Nya dan memilikinya dari diri-Nya sendiri.

III. Allah, " Ia yang Ada", Adalah Kebenaran dan Cinta
214 Allah, "la yang ada", telah mewahyukan Diri kepada Israel sebagai "yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan" (Kej 34:6). Kedua pengertian ini menegaskan inti kekayaan nama ilahi itu. Dalam segala karya-Nya Allah menunjukkan kemurahan hati-Nya, kebaikan-Nya, rahmat-Nya, cinta-Nya, tetapi juga sifat-Nya yang layak dipercaya, ketabahan hati-Nya, kesetiaan-Nya dan kebenaran-Nya. "Aku mau memuji nama-Mu, sebab Engkau setia dan selalu mengasihi" (Mzm 138:2). Ia adalah kebenaran, karena "Allah itu terang, dan padaNya tidak ada kegelapan sama sekali" (1 Yoh 1:5); Ia adalah "cinta", seperti yang diajarkan Rasul Yohanes (1 Yoh 4:8).
Allah Adalah Kebenaran
215 "Semua sabda-Mu benar, segala hukum-Mu yang adil tetap selama-lamanya" (Mzm 119:160). "Ya, Tuhanku dan Allahku, Engkau Allah yang Esa, semua janji-Mu Kau tepati" (2 Sam 7:28). Karena itu, Allah selalu memenuhi janji-Nya. Allah adalah kebenaran itu sendiri; Sabda-sabda-Nya tidak bisa menipu. Karena itu, dengan penuh kepercayaan orang dapat menyerahkan diri dalam segala hal kepada kebenaran-Nya dan kepada kepastian Sabda-Nya. Dosa dan kejatuhan manusia disebabkan oleh dusta penggoda yang membawa kebimbangan terhadap Sabda Allah, terhadap kemurahan hati-Nya dan kesetiaan-Nya.
216 Kebenaran Allah adalah juga kebijaksanaan-Nya, yang menetapkan tata tertib seluruh ciptaan dan peredaran dunia. Allah, yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, adalah juga satu-satunya yang dapat menganugerahkan pengertian yang benar tentang segala ciptaan dalam hubungannya dengan Dia.
217 Allah juga benar, apabila Ia mewahyukan Diri: Ajaran yang datang dari Tuhan, adalah "ajaran yang benar" (Mal 2:6). Ia mengutus Putera-Nya ke dunia, supaya Ia "memberikan kesaksian tentang kebenaran" (Yoh 18:37). "Anak Allah telah dating dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal [Allah] Yang Benar" (1 Yoh 5:20).

Allah Adalah Cinta
218 Dalam peredaran sejarah, Israel dapat mengerti bahwa Allah hanya mempunyai satu alasan untuk mewahyukan Diri kepadanya dan memilihnya dari antara segala bangsa, supaya menjadi milik-Nya: cinta-Nya yang berbelaskasihan. Berkat nabi-nabinya Israel mengerti bahwa Allah karena cinta-Nya selalu saja meluputkannya dan mengampuni ketidaksetiaannya dan dosa-dosanya.
219 Cinta Tuhan kepada Israel dibandingkan dengan cinta seorang bapa kepada puteranya. Cinta itu lebih besar daripada cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Allah mencintai bangsa-Nya lebih dari seorang pengantin pria mencintai pengantin wanita. Cinta ini malahan akan mengalahkan ketidaksetiaan yang paling buruk. Ia akan berlangkah sekian jauh, sampai Ia menyerahkan juga yang paling dicintai-Nya: "Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal" (Yoh 3:16).
220 Cinta Allah itu "abadi" (Yes 54:8): "Biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu" (Yes 54:10). "Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu" (Yer 31: 3).
221 Santo Yohanes berlangkah lebih jauh lagi dan berkata: "Allah adalah kasih" (1 733 Yoh 4:8-16): Cinta adalah kodrat Allah. Dengan mengutus Putera-Nya yang tunggal dan Roh cinta pada kepenuhan waktu, Allah mewahyukan rahasia-Nya yang paling dalam; Ia sendiri adalah pertukaran cinta abadi, Bapa, Putera, dan Roh Kudus, dan Ia telah menentukan supaya kita mengambil bagian dalam pertukaran itu.

IV Arti Iman akan Allah yang Esa
222 Beriman akan Allah yang Esa dan mencintai-Nya dengan seluruh kepribadian kita, mempunyai akibat-akibat yang tidak dapat diduga untuk seluruh kehidupan kita:
223 Kita mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah. "Sesungguhnya, Allah itu agung, tidak tercapai oleh pengetahuan kita" (Ayb 36:26). Karena itu, "kita harus menempatkan Allah pada tempat yang pertama sekali" (Jeanne dArc).
224 Kita hidup dengan ucapan terima kasih: Kalau Allah itu Esa, maka segala sesuatu yang ada pada kita dan yang kita miliki, berasal dari Dia: "Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?" (1 Kor 4:7). "Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?" (Mzm 116:12).
225 Kita mengetahui kesatuan dan martabat yang benar semua manusia: Mereka 4 semua diciptakan menurut citra Allah, sesuai dengan-Nya.
226 Kita mempergunakan benda tercipta secara wajar: Iman akan Allah yang Esa mengajar kita mempergunakan segala sesuatu yang bukan Allah, sejauh hal itu mendekatkan kita kepada Allah, dan melepaskannya, sejauh ia menjauhkan kita dari Dia.
"Tuhanku dan Allahku, ambillah dari diriku segala sesuatu yang menghalang-halangi aku untuk datang kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, berilah aku segala sesuatu yang mendekatkan aku kepada-Mu.
Tuhanku dan Allahku, ambillah aku dari diriku dan jadikanlah aku sepenuhnya milik-Mu".
(Nikolaus dari Flue, Doa).

227 Kita percaya kepada Allah dalam setiap keadaan, juga dalam hal-hal yang mengganggu. Doa Santa Teresia dari Yesus mengungkapkan ini dengan sangat mengesankan:
Semoga tidak ada hal yang membingungkan engkau, Semoga tidak ada hal yang menakutkan engkau.
Segala sesuatu akan berlalu, Allah tidak berubah. Kesabaran memperoleh segala sesuatu.
Siapa yang memiliki Allah tidak kekurangan sesuatu pun.
Allah sendiri mencukupi. (poes. 30)

TEKS-TEKS SINGKAT
228 "Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa " (UI 6.:4, menurut Mrk 12:29). "Apa yang mau dipandang sebagai yang terbesar harus esa sifatnya dan tidak boleh mempunyai tandingannya ... Sebab kalau Allah tidak esa, maka Ia bukan Allah" (Tertulianus, Marc, 1,3).
229 Iman akan Allah mendorong kita, supaya berpaling hanya kepada Dia sebagai awal mula kita yang pertama dan sebagai tujuan akhir kita dan tidak boleh ada sesuatu pun yang mendahului-Nya atau mengganti-Nya.
230 Walaupun Allah mewahyukan Diri, namun Ia tetap tinggal rahasia yang tidak terucapkan: "Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah " (Agustinus, serm. 52, 6,16).
231 Allah yang kita imani telah mewahyukan Diri sebagai YANG ADA: la menyatakan Diri sebagai "yang penuh kemurahan hati dan belas kasihan " (Kel 34:6). Kebenaran dan cinta adalah kodrat-Nya.
kata Kristen: "Allah tidak perlu dibela, tidak seperti Muslim yang Allah-nya lumpuh perlu dibela"

lalu apakah ini bukan pembelaan? ===>>> Sarapan Pagi: Jawaban Atas Kontradiksi Alkitab

jika ente bilang bukan pembelaan, silahkan cek buktinya bahwa ini adalah pembelaan di sini ===>>> Tanggapan Atas Jawaban Kontradiksi Alkitab Sarapan Pagi
User avatar
n'DhiK
Jatuh Cinta
Jatuh Cinta
 
Posts: 978
Joined: 2008 10 22, 1:37
Location: Dari Jakarta Hingga Ke Makkah

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby n'DhiK » 2010 01 28, 4:33

III. ALLAH DALAM KEISLAMAN

Allah diambil dari kata "allah" (الله) dalam Bahasa 'Arab yang artinya "Tuhan" secara general, karena kata "Allah" termasuk ism ma'rifat (kata benda umum) dan maknanya luas.. kata dasarnya adalah "ilah" (إله) yang artinya "tuhan/dewa" (lihat post 1 di top)..

beberapa teori mencoba menganalisa etimologi dari kata "Allah", salah satunya mengatakan bahwa kata "Allah" (الله) bukan bentuk ma'rifat (definitif) dari ilah, sementara bentuk ma'rifatnya adalah al-ilah, bukan Allah... teori lain mengatakan kata ini berasal dari kata Bahasa Aram (moyang Bahasa 'Arab), yaitu Alaha (ܐܠܗܐ), sesuai dengan Allah yang artinya "Tuhan"...

dalam pandangan Islam, Allah adalah Dzat Pencipta, Pemelihara, dan Penguasa Yang Maha Esa, satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan tiada sekutu bagi-Nya...

istilah "Allah" muncul pada ayat pertama Al-Qur'an, yang disebut "basmalah" pada Surah Al-Fatihah ayat 1:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
bismillaahir rahmaanir rahiim

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"

dalam Al-Qur'an terjemahan Ibrani, kata "allah" memang dicocokkan dengan "elohim" seperti terjemahan basmalah berikut ini:

בִשֶם אֱלֹהִים הַרָחֲמָן וְהָרָחֻום
bisyem elohiym ha'rakhaman veha'rakhum

"Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang"

dalam pemahaman 'aqidah, Allah dalam Keislaman adalah Allah yang sama dengan Allahnya Yahudi, yaitu Tuhan Avrah'am (Ibrahim), Yisyma'el (Isma'il), Yitskhaq (Ishaq), dan Ya'aqov (Ya'qub)... namun Al-Qur'an mendeskripsikan Allah sebagai Tuhan yang Universal, dibandingkan Yahweh yang bersifat Nasional..

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
quuluu aamannaa billaahi wa maa unzila ilaynaa wa maa unzila ilaa ibraahiima wa ismaa'iila wa ishaaqa wa ya'quuba wal asbaathi wa maa uutiya muusaa wa 'iisaa wa maa uutiyan nabiyyuunaa mirrabbihim laa nufarriqu bayna ahadim minhum wa nahnu lahuu muslimuun

"Katakanlah (hai orang-orang mu'min): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya" (QS Al-Baqarah: 136)

salah satu perbedaan mendasar antara Islam dan Yahudi mengenai Allah adalah Yahudi mengenal adanya "Nama Tuhan Yang Benar" sedangkan Islam mengizinkan memanggil-Nya dengan nama-nama lain selain nama Allah, namun itu "Nama Tuhan Yang Baik" (Asmaa'ul Husna):

قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
qulid'ullaaha awid'ur rahmaan, ayyammaa tad'u falahul asmaa'ul husnaa, wa laa tajhar bishalaatika wa laa tukhaafit bihaa wabtaghi bayna dzaalika sabiilaa

"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-asmaa'ul husnaa (nama-nama yang baik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu" (Al-Isra' 110)

Image
kaligrafi Allah yang merahmati hamba-hamba-Nya

konsep monotheisme dalam Islam begitu simpel namun memiliki penjiwaan yang kompleks (dipelajari dalam ilmu tauhid uluhiyah dan rububiyah, dan dipelajari dalam ilmu mistisisme Islam atau tasawuf), adapun tersirat dalam Al-Qur'an yang disebut sebagai Surah Qulhu:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
اللَّهُ الصَّمَدُ
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

qul huwallaahu ahad
allaahush shamad
lam yalid wa lam yuulad
wa lam yaqullahuu kufuwan ahad


"Katakanlah: "Dia-lah Allah Yang Maha Esa!" Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia" (Al-Ikhlash: 1-4)

dalam hal ini, Islam menuntut penyembahan, tunduk, dan pasrah seutuhnya (kaffah) kepada Allah, yang hanya ada Satu, apapun alasannya tidak menjelma, tidak beranak, tidak diperanakkan, tidak menitis, dan ke-Esaan yang utuh.... sehingga Allah sangat membenci orang-orang musyrik, yaitu orang-orang yang menyekutukan-Nya,

dalam monotheisme Islam yang menganut unitarian monotheism, tauhid dibagi atas 3 bagian:

1. Tauhid Rububiyah (توحد ربوبية)

Tauhid Rububiyah melihat dari asal katanya "ar-rabb" yang berarti mengembangkan sesuatu dari suatu keadaan pada keadaan yang lain sampai mencapai kedaan yang sempurna dan tidak disebut sendirian kecuali untuk Allah dan apabila ditambahkan kepada kalimat yang lain, maka hal itu bisa untuk Allah..

jadi Tauhid Rububiyah berarti tauhid yang meyakini bahwa Allah adalah Tuhan, Tuhan Yang Maha Pencipta dan segala perbuatan–perbuatan-Nya... pengakuan keimanan ini harus tertanam dari dalam diri.. Allah telah menciptakan bumi dan langit dan apa-apa yang berada diantara keduanya; memiliki, merencanakan, menciptakan, mengatur, memelihara serta menjaga seluruh Alam Semesta... pengakuan ini harus tertanam dalam hati secara sadar, baik pengakuan yang terlahir melalui kajian-kajian yang berdasarkan akal budi ataupun pengakuan yang tumbuh sebagai akibat ketaatan dan ketekunan ibadah yang ikhlas karena Allah...

2. Tauhid Uluhiyah (توحد أولوهية)

Tauhid Uluhiyah yaitu tauhid yang mengesakan Allah dengan perbuatan-perbuatan hamba-Nya atau mengesakan Allah melalui niat dan ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah semata.... pendekatan diri dengan tauhid uluhiyah ini adalah dengan melakukan amal ibadah yang diyariatkan seperti shalat, puasa, berdo’a thawaf, Qurban, pengharapan, takut, senang, tawakal dan lain sebagainya yang kesemuanya itu berasal dari Allah dan untuk Allah semata...

Tauhid Uluhiyah ini mensyaratkan adanya tauhid rububiyah, tanpa tauhid rububiyah, maka tauhid uluhiyah akan batal karena pengesaan Allah melalui perbuatan-perbutan hamba adalah setelah hamba tersebut menghayati dan memahami seluruh perbutan-perbutan Allah yang telah menciptakan hamba-Nya tersebut atau merupakan konsekuensi dari keimanan terhadap rububiyah-Nya...

Tauhid Uluhiyah inilah yang selama ini menjadi pertentangan antara orang –orang kafir dengan seluruh nabi dan rasul yang diutus Allah... pertentangan itu disebabkan tauhid uluhiyah inilah inti dari dakwah para nabi dan rasul terdahulu...

3. Tauhid Asma wa Sifat (توحد أسماء وصيفة)

Tauhid Asma wa Sifat yaitu mengesakan Allah melalui pengakuan dan penghayatan tentang nama-nama dan sifat Allah yang didasarkan kepada Al-Quran dan Hadits Rasulullah.SAW... tauhid ini merupakan penafsiran dari pensifatan Allah ataupun penafsiran atas Dzat Allah melalui pensifatan Rasulullah.SAW Pensifatan ini harus tidak keluar dari prinsip dasar kajian ilmu tauhid bahwa, Allah tidak memberikan pengetahuan kepada manusia tentang Dzat-Nya, tetapi manusia bisa mengenal Allah melalui sifat-sifat dan perbuatan-Nya...

Pensifatan Allah harus bebas dari penafsiran-penafsiran yang mengandung penyimpangan seperti pemahaman penafsiran serba tuhan atau penyatuan diri manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan Allah sebagai tuhan yang menciptakan manusia dan pensifatan Allah juga harus bebas dari tamsil atau pengibaratan atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya... bebas dari visualisasi atau penggambaran tentang Allah...

ketiga macam tauhid ini bukan merupakan bagian yang berdiri sendiri, tetapi ketiga macam tauhid tersebut (tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma' wa sifat ) merupakan satu kesatuan yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga tiga macam tauhid ini merupakan rangkaian segitiga tauhid yang saling melengkapi dan saling menguatkan...

Asma' Allah / Asma'ul Husna:

HuwALLAAHULladzii laa ilaaha illa huwa:
1. Ar-Rahman, artinya Yang Maha Pemurah
2. Ar-Rahiim, artinya Yang Maha Pengasih
3. Al-Malik, artinya Maha Raja
4. Al-Qudduus, artinya Maha Suci
5. As-Salaam, artinya Maha Sejahtera
6. Al-Mu’min, artinya Yang Maha Terpercaya
7. Al-Muhaimin, artinya Yang Maha Memelihara
8. Al-'Aziz, artinya Yang Maha Perkasa
9. Al-Jabbaar, artinya yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari
10. Al-Mutakabbir, artinya Yang Memiliki Kebesaran
11. Al-Khaaliq, artinya yang Maha Pencipta
12. Al-Baari', artinya Yang Mengadakan dari Tiada
13. Al-Mushawwir, artinya Yang Membuat Bentuk
14. Al-Ghaffaar, artinya Yang Maha pengampun
15. Al-Qahhaar, artinya Yang Maha Perkasa
16. Al-Wahhaab, artinya Yang Maha Pemberi
17. Ar-Razzaq, artinya Yang Maha Pemberi Rezeki
18. Al-Fattaah, artinya Yang Maha Membuka (Hati)
19. Al-'Alim, artinya Yang Maha Mengetahui
20. Al-Qaabidh, artinyaYang Maha Pengendali
21. Al-Baasith, artinya Yang Maha Melapangkan
22. Al-Khaafidh, artinya Yang Merendahkan
23. Ar-Raafi', artinya Yang Meninggikan
24. Al-Mu'izz, artinya Yang Maha Terhormat
25. Al-Mudzdzill, artinya Yang Maha Menghinakan
26. As-Samii', artinya Yang Maha Mendengar
27. Al-Bashiir, artinya Yang maha Melihat
28. Al-Hakam, artinya Yang Memutuskan Hukum
29. Al-'Adl, artinya Yang Maha Adil
30. Al-Lathiif, artinya Yang Maha Lembut
31. Al-Khabiir, artinya Yang Maha Mengetahui
32. Al-Haliim, artinya Yang Maha Penyantun
33. Al-'Azhiim, artinya Yang Maha Agung
34. Al-Ghafuur, artinya Yang Maha Pengampun
35. Asy-Syakuur, artinya Yang Menerima Syukur
36. Al-'Aliyy, artinya Yang Maha Tinggi
37. Al-Kabiir, artinya Yang Maha Besar
38. Al-Hafiizh, artinya Yang Maha Penjaga
39. Al-Muqiit, artinya Yang Maha Pemelihara
40. Al-Hasiib, artinya Yang Maha Pembuat Perhitungan
41. Al-Jaliil, artinya Yang Maha Luhur
42. Al-Kariim, artinya Yang Maha Mulia
43. Ar-Raqiib, artinya Yang Maha Mengawasi
44. Al-Mujiib, artinya Yang Maha Mengabulkan
45. Al-Waasi', artinya Yang Maha Luas
46. Al-Hakiim, artinya Yang Maha Bijaksana
47. Al-Waduud, artinya Yang Maha Mengasihi
48. Al-Majiid, artinya Yang Maha Mulia
49. Al-Baa'its, artinya Yang Membangkitkan
50. Asy-Syahiid, artinya Yang Maha Menyaksikan
51. Al-Haqq, artinya Yang Maha Benar
52. Al-Wakiil, artinya Yang Maha Pemelihara
53. Al-Qawiyy, artinya Yang Maha Kuat
54. Al-Matiin, artinya Yang Maha Kokoh
55. Al-Waliyy, artinya Yang Maha Melindungi
56. Al-Hamiid, artinya Yang Maha Terpuji
57. Al-Muhshi, artinya Yang Maha Menghitung
58. Al-Mubdi', artinya Yang Maha Memulai
59. Al-Mu'id, artinyaYang Maha Mengembalikan
60. Al-Muhyi, artinya Yang Maha Menghidupkan
61. Al-Mumiit, artinya Yang Maha Mematikan
62. Al-Hayy, artinya Yang Maha Hidup
63. Al-Qayyuum, artinya Yang Maha Mandiri
64. Al-Waajid, artinya Yang Maha Menemukan
65. Al-Maajid, artinya Yang Maha Mulia
66. Al-Waahid, artinya Yang Maha Tunggal
67. Al-Ahad, artinya Yang Maha Esa
68. Ash-Shamad, artinya Yang Maha Dibutuhkan
69. Al-Qaadir, artinya Yang Maha Kuat
70. Al-Muqtadir, artinya Yang Maha Berkuasa
71. Al-Muqqadim, artinya Yang Maha Mendahulukan
72. Al-Mu'akhkhir, artinya Yang Maha Mengakhirkan
73. Al-Awwal, artinya Yang Maha Permulaan
74. Al-Aakhir, artinya Yang Maha Akhir
75. Azh-Zhaahir, artinya Yang Maha Nyata
76. Al-Baathin, artinya Yang Maha Ghaib
77. Al-Waalii, artinya Yang Maha Memerintah
78. Al-Muta'aalii, artinya Yang Maha Tinggi
79. Al-Barr, artinya Yang Maha Dermawan
80. At-Tawwaab, artinya Yang Maha Penerima Taubat
81. Al-Muntaqim, artinya Yang Maha Penyiksa
82. Al-'Afuww, artinya Yang Maha Pemaaf
83. Ar-Ra'uuf, artinya Yang Maha Pengasih
84. Maalikul Mulk, artinya Yang Mempunya Kerajaan
85. Dzul Jalaali wal 'Ikraam, artinya Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan
86. Al-Muqsith, artinya Yang Maha Adil
87. Al-Jaami', artinya Yang Maha Pengumpul
88. Al-Ghaniyy, artinya Yang Maha kaya
89. Al-Mughnii, artinya Yang Maha Mencukupi
90. Al-Maani', artinya Yang Maha Mencegah
91. Adh-Dhaarr, artinya Yang Maha Pemberi Derita
92. An-Naafi', artinya Yang Maha Pemberi Manfaat
93. An-Nuur, artinya Yang Maha Bercahaya
94. Al-Haadii, artinya Yang Maha Pemberi Petunjuk
95. Al-Badii', artinya Yang Maha Pencipta
96. Al-Baaqii, artinya Yang Maha Kekal
97. Al-Waarits, artinya Yang Maha Mewarisi
98. Ar-Rasyiid, artinya Yang Maha Pandai
99. Ash-Shabuur, artinya Yang Maha Sabar

Shifatullah / Shifaatul 'Asyarayn:

1. Wujud (Ada)
2. Qidam (Dahulu)
3. Baqa' (Kekal)
4. Mukhalafatu lil Hawadits (Berbeda dengan Ciptaan-Nya)
5. Qiyamuhu Binafsih (Berdiri dengan Sendiri-Nya)
6. Wahdaniyah (Esa)
7. Qudrah (Berkuasa)
8. Iradah (Berkehendak)
9. 'Ilmu (Mengetahui)
10. Hayat (Hidup)
11. Sama' (Mendengar)
12. Bashar (Melihat)
13. Kalam (Berbicara)
14. Qadirun (Yang Berkuasa)
15. Muridun (Yang Berkehendak)
16. 'Alimun (Yang Mengetahui)
17. Hayyun (Yang Hidup)
18. Sami'un (Yang Mendengar)
19. Bashirun (Yang Melihat)
20. Mutakallimun (Yang Berbicara)
kata Kristen: "Allah tidak perlu dibela, tidak seperti Muslim yang Allah-nya lumpuh perlu dibela"

lalu apakah ini bukan pembelaan? ===>>> Sarapan Pagi: Jawaban Atas Kontradiksi Alkitab

jika ente bilang bukan pembelaan, silahkan cek buktinya bahwa ini adalah pembelaan di sini ===>>> Tanggapan Atas Jawaban Kontradiksi Alkitab Sarapan Pagi
User avatar
n'DhiK
Jatuh Cinta
Jatuh Cinta
 
Posts: 978
Joined: 2008 10 22, 1:37
Location: Dari Jakarta Hingga Ke Makkah

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby the_nephilim » 2010 01 28, 9:32

GREAT :applause: :applause: :applause:
buat lagi Bro:

1. Kitab Suci menurut 3 agama Samawi
2. Yesus menurut 3 agama Samawi
3. Muhammad menurut 3 agama Samawi

:smile:
User avatar
the_nephilim
Pengen tahu
Pengen tahu
 
Posts: 74
Joined: 2010 01 23, 1:00
Location: Mud City

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby zeustars » 2010 05 03, 11:31

CARA MEMBERI TAU ORANG YANG TIDAK TAU.


Soal Rasa hanya bisa dikenali oleh lidah,
Soal Aroma hanya bisa dikenali oleh hidung,
soal kenikmatan hanya bisa dirasa oleh orang yang merasakannya.

Kesemua itu tidak dapat diceritakan dengan kata-kata, karena yang diceritakan tidak bisa merasakan hal tersebut.

MENJADI MUALLAF MERUPAKAN SUATU ANUGRAH, ANUGRAH ITU TIDAK BISA DICERITAKAN OLEH KATA-KATA, HANYA BISA DIRASAKAN OLEH ORANG YANG MENDAPATKAN ANUGRAH.

Mau tau Anugrah jadi Muallaf ?, ya cari sendiri.
Enak ajje, maunya diceritain, lagian biar diceritain juga , nggak bakal bisa merasakan Anugrah jadi Muallaf.
:smile:
zeustars
Mengenal
Mengenal
 
Posts: 25
Joined: 2010 03 11, 11:20

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby raiguru » 2010 05 08, 10:59

I loooove n'dhik,...
User avatar
raiguru
Pengen tahu
Pengen tahu
 
Posts: 163
Joined: 2007 12 01, 2:10

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby indahnya » 2010 05 08, 12:34

zeustars wrote:CARA MEMBERI TAU ORANG YANG TIDAK TAU.


Soal Rasa hanya bisa dikenali oleh lidah,
Soal Aroma hanya bisa dikenali oleh hidung,
soal kenikmatan hanya bisa dirasa oleh orang yang merasakannya.

Kesemua itu tidak dapat diceritakan dengan kata-kata, karena yang diceritakan tidak bisa merasakan hal tersebut.

MENJADI MUALLAF MERUPAKAN SUATU ANUGRAH, ANUGRAH ITU TIDAK BISA DICERITAKAN OLEH KATA-KATA, HANYA BISA DIRASAKAN OLEH ORANG YANG MENDAPATKAN ANUGRAH.

Mau tau Anugrah jadi Muallaf ?, ya cari sendiri.
Enak ajje, maunya diceritain, lagian biar diceritain juga , nggak bakal bisa merasakan Anugrah jadi Muallaf.
:smile:


iya, memang harus dirakan sendiri, baru bisa paham...
User avatar
indahnya
Ketagihan
Ketagihan
 
Posts: 1843
Joined: 2010 03 12, 1:29

Re: ALLAH Dalam Pandangan 3 Agama Samawi

Postby light seeker » 2011 02 04, 8:25

Ijin share ya akhy, syukran :grin:
Yesus disalib. Apakah ketuhanan Kristus atau kemanusiaan Kristus yang disalibkan? tanya kenapa?
User avatar
light seeker
Suka
Suka
 
Posts: 373
Joined: 2010 01 21, 10:54


Return to Aqidah & Akhlak

Who is online

Users browsing this forum: No registered users and 0 guests